makalah perikanan
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu
wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang
berjudul BUDIDAYA IKAN KAKAP MERAH. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas komputer
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi
kita semua.
Mandalle,
12 Maret 2019
Nurjanna Tunnaim
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ I
BAB I PENDAHULUAN.................................................................. 1
1.1 Latar
Belakang..........................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................
1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................
2
2.1 Defenisi Ikan Kakap Merah ...................................................................... 2
2.2 Wadah Buididaya......................................................................................
5
BAB III PENUTUP...............................................................................................
10
DAFTAR GAMABAR...........................................................................................
II
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ III
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia
memiliki potensi sumber daya perairan yang cukup besar untuk usaha budidaya
ikan, namun usaha budidaya ikan kakap belum banyak berkembang, sedangkan di
beberapa negara seperti: Malaysia, Thailand dan Singapura, usaha budidaya ikan
kakap dalam jaring apung (floating net cage) di laut telah berkembang. Ikan
Kakap Merah atau lebih dikenal dengan nama seabass/Baramundi merupakan jenis
ikan yang mempunyai nilai ekonomis, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
dalam negeri maupun ekspor.
Produksi
ikan kakap di Indonesia sebagian besar masih dihasilkan dari penangkapan di
laut, dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah di hasilkan dari usaha-
pemeliharaan (budidaya). Salah satu faktor selama ini yang menghambat
perkembangan usaha budidaya ikan kakap di Indonesia adalah masih sulitnya
pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup. Untuk mengatasi
masalah benih, Balai Budidaya Laut Lampung bekerja sama dengan FAO/UNDP melalui
Seafarming Development Project INS/81/008 dalam upaya untuk memproduksi benih
kakap merah
secara
massal. Pada bulan April 1987 kakap merah telah berhasil dipijahkan ddengan
rangsangan hormon, namun demikian belum diikuti dengan keberhasilan dalam
pemeliharaan larva. Baru pada awal 1989 kakap merah dengan sukses telah dapat
dipelihara larvanya secara massal di hatchery Balai Budidaya Lampung. Dalam
upaya pengembangan budidaya ikan kakap merah di indonesia, telah dikeluarkan
Paket Teknologi Budidaya Kakap Merah di Karamba Jaring Apung melalui
rekomendasi Ditjen Perikanan No. IK. 330/D2. 10876/93K, yang dilanjutkan dengan
Pembuatan Petunjuk Teknis Paket Teknologi.
2.1
Rumusan
Masalah
1.
Apa saja jenis-jenis ikan kakap merah?
2.
Bagaimana cara membudidayakan ikan kakap
merah?
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Definisi
ikan kakap merah
Seperti ikan kerapu, ikan kakap di
alam juga tergolong karnivora. Di pasaran internasional, golongan kakap merah
dikenal dengan nama snappers. Golongan kakap ini biasanya merupakan ikan
demersal yang dapat hidup pada daerah perairan dangkal sampai laut dalam. Ada
dua jenis kakap merah budi daya yang telah berhasil dibenihkan yaitu kakap
tambak (‘mangrove snapper, Lutjanus argentimaadatus) dan kakap jenaha (golden
snapper, Lutjanus johni). Kedua jenis kakap ini mempunyai bentuk memanjang,
agak pipih, badan tinggi, dan mempunyai gigi taring. Sepintas badannya
berwarnamerah sehingga disebut kakap merah, tetapi bila diteliti secara cermat
masing-masing spesies mempunyai ciri sebagai berikut.
1. IKAN
KAKAP TAMBAK
Kakap tambak
(Lutjanus argentiniaculatus) :

Di Indonesia, beberapa tempat
menyebut Lutjanus argentimaculatus sebagai kakap tambak, tetapi beberapa daerah
lainnya menyebutnya jenahan, jambian, atau samassi. Ikan ini dapat hidup di
perairan yang mempunyai kedalaman mencapai 100 m. Badannya berwarna cokelat tua
kemerahan dengan bagian bawah keperakan. Pada ikan yang muda (panjangnya kurang
dari 13 cm) terdapat 8—11 garis-garis berwarna keperakan yang melintang dan
garis cokelat berkelok di bawah mata. Garis-garis ini akan hilang bila ikan
semakin tua.
Sirip punggung berwarna cokelat
kemerahan dan bila diamati sisik-sisiknya, tampak pada setiap sisik badan itu
terdapat bintik gelap. Sisik-sisik ini berderet membujur di atas garis rusuk
(lateral line) dan sejajar sampai bagian depan dan akan condong naik di bagian
belakang di bawah sirip punggung paling belakang. Bagian ujung sirip dubur dan
perut berwarna violet. Ekor agak bercabang cokelat kemerahan dengan sebuah pita
putih di bagian pinggir.
2. Kakap
jenaha (Lutjanus johni)

Ikan ini dapat hidup pada daerah
hutan bakau sampai laut dengan kedalaman 60 m. Bentuk dan warna hampir sama
dengan kakap tambak, sirip-sirip di atas garis rusuk berderet sejajar dengan
garis rusuk, sedangkan sirip-sirip di bawah garis rusuk sejajar dengan poros
badan. Setiap sisi pada badannya terdapat bintik cokelat sehingga bintik-bintik
ini merupakan garis-garis membujur. Di antara garis rusuk dan sirip punggung
keras terdapat noda (spot) oval berwarnahitam yang terlihat jelas pada ikan
yang berumur muda. Pada ikan yang muda akan tampak 5 – 6 pita berwarna
kecokelatan di badannya. Sirip punggung dan dubur serta ekor berwarna
kekuningan, sedangkan sirip dada dan perut berwarna kemerahan.
Pembudidayaan ikan kakap
merahBeberapa sifat kakap merah yang menguntungkan usaha budidaya adalah pertumbuhan
relatif cepat, toleran terhadap kekeruhan, ruang terbatas dan salinitas, serta
tanggap terhadap pakan buatan. Selain itu, budi daya ikan ini relatif mudah,
tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara dalam kepadatan yang tinggi, dan
sifat kanibalismenya rendah.
Pertumbuhan dan perkembanganLaju
pertumbuhan ikan kakap merah yang dipelihara dalam karamba jaring apung
mencapai 0,56% per hari. Data tersebut menunjukkan baliwa ikan kakap merah
tergolong ikan yang cepat pertumbuhannya. Kakap merah termasuk jenis ikan
hermaphrodit protandi, yaitu berstatus jantan pada awal kehidupannya, lalu
berubah menjadi betina. Ikan kakap, merah yang berukuran antara 45,0 – 55,0 cm
didominasi oleh ikan jantan, sedangkan yang berukuran 56,0-62,5 cm didominasi
ikan betina.
Perubahan dari jantan ke betina
terjadi setelah ikan berumur 6-8 tahun. Pada saat itu, induk jantan telah
berukuran bobot 3,5 kg dengan panjang total 53-6o CM.
Ikan betinanya akan siap memijah
setelah berukuran sekitar 6 kg. Bobot induk betina L. argentimaculatus yang
telah matang gonad antara 2,9-5,5 kg, sedangkan jantan antara 3,6-4,6 kg. L.
Sebae memijah sepanjang tahun, sedangkan L. argentimaculatus memijah selama 6
bulan, yaitu dari bulan Desember—Juni. Pemijahan dapat dilaksanakan di dalam
tangki maupun KJA. Seekor ikan betina yang bobotnya antara 3-4,5 kg dapat
menghasilkan telur sebanyak 1,2 juta butir. Khusus L. sebae, pemijahannya tidak
tergantung pada sildus peredaran bulan. Ikan jenis ini memijah pada bulan gelap
maupun bulan purnama. Namun, keragaan pemijahan yang lebih baik terjadi pada
bulan gelap dibanding bulan terang. Pemijahan berlangsung dalam tangki pada
kedalaman air 70-16o meter.
Pemilihan lokasi budidaya Ikan
kakap merah tergolong ikan eurihalin. Kakap merah yang masih muda dan dewasa hidup
di daerah mangrove dan muara sungai yang kadar garamnya mendekati air tawar.
Sifat ini menciptakan peluang untuk membudidayakannya, baik di tambak maupun
dalam KJA di laut. Lokasi penempatan KJA atau karamba tancap harus terlindung
dari pengaruh gelombang besar dan angin kencang, seperti perairan teluk yang
terlindung, selat kecil, muara sungai ataupun sungai yang airnya bersifat
payau. Kakap merah bisa hidup di perairan laut maupun perairan payau dengan
kadar garam berkisar 10-35 ppt, dan suhu air 26-310 C.
Beberapa persyaratan teknis yang harus di penuhi untuk
lokasi budidaya ikan kakap merah di laut adalah:
1.1 Perairan
pantai/ laut yang terlindung dari angin dan gelombang
2.1 Kedalaman air yang baik untuk pertumbuhan ikan
kakap putih berkisar antara 5 ~ 7 meter.
3.1 Pergerakan air yang cukup baik dengan
kecepatan arus 20-40 cm/detik.
4.1 Kadar
garam 27 ~ 32 ppt, suhu air 28 ~ 30 0 C dan oksigen terlarut 7 ~ 8 ppm
5.1 Benih mudah diperoleh.
6.1 Bebas dari pencemaran dan mudah dijangkau.
7.1 Tenaga kerja cukup tersedia dan terampil.
2.2 Wadah
Budidaya
Ikan kakap merah dapat dibudidayakan dalam KJA maupun
karamba tancap di perairan pantai, sekitar muara sungai. Ikan ini dapat
dibudidayakan dalam KJA berukuran 2 m X 2 m X 2 m, maupun ukuran yang lebih
besar 3 m x 3 m X 2 m, disesuaikan dengan target produksi yang ingin dicapai.
1.
Sarana dan Alat
Pemeliharaan ikan kakap di laut umumnya dilakukan dalam
keramba jaring apung (floating net cage) dengan metode operasional secara mono
kultur. Secara garis besar keramba jaring apung terdiri dari beberapa bagian
yaitu:
1.
Jaring
Jaring terbuat dari bahan:
·
Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar
mata 1 ~ 1,25”, guna untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos
keluar.
·
Ukuran: 3 m x 3 m x 3 m
·
1 Unit Pembesaran: 6 jaring (4 terpasang dan 2
jaring cadangan)
2.
Kerangka/Rakit: Kerangkan berfungsi sebagai
tempat peletakan kurungan.
·
Bahan: Bambu atau kayu
·
Ukuran: 8 m x 8 m
3.
Pelampung: Pelampung berpungsi untuk
mengapungkan seluruh sarana budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk
kepentingan pengelolaan
·
Jenis: Drum (Volume 120 liter)
·
Jumlah: 9 buah.
4.
Jangkar: Agar seluruh sarana budidaya tidak
bergeser dari tempatnya akibat pengaruh angin, gelombang digunakan jangkar.
·
Jenis yang dipakai: Besi atau beton (40 kg).
·
Jumlah : 4 buah
·
Panjang tali : Minimal 1,5 kali ke dalam air
5.
Ukuran benih yang akan Dipelihara: 50-75
gram/ekor
6.
Pakan yang digunakan: ikan rucah
7.
Perahu : Jukung
8.
Peralatan lain : ember,serok ikan, keranjang,
gunting dll.
- Konstruksi wadah pemeliharaan
Perakitan karamba jaring bisa dilakukan di darat dengan
terlebih dahulu dilakukan pembuatan kerangka rakit sesuai dengan ukuran yang
telah ditentukan. Kerangka ditempatkan di lokasi budidaya yang telah direntukan
dan agar tetap pada tempatnya (tidak terbawa arus) diberi jangkar sebanyak 4
buah. Jaring apung apa yang telah dibuat berbentuk bujur sangkar pada kerangka
rakit dengan cara mengikat keempat sudut kerangka.
2.
Pengelolaan
Budi Daya
·
Penyediaan benih
Benih kakap merah bisa diperoleh dari hatchery yang
menyediakan benih kakap ini, atau bisa diperoleh dengan cara penangkapan dari
alam. Benih dari alam biasanya ketersediaannya terbatas, ukurannya tidak
seragam dan hanya tersedia pada musim tertentu. Adapun pengangkutannya dengan
sistem tertutup.
· Penebaran
benih
Penebaran benih dilakukan sebaiknya walau pagi atau sore
hari karena suhu udara atau air lebih dingin. Sebelum penebaran,
harusdiperhatikan kondisi kualitas air, terutama suhu dan salinitas. Jika suhu
dan salinitas air pengangkutan cukup berbeda dengan air dilokasi budi daya,
perlu dilakukan adaptasi. Padat penebaran benih kakap merah seberat 50 g adalah
100 ekor/m3. Adapun padat penebaran ikan yang berukuran lebih besar (200 g),
yaitu 11-12 ekor/m2.
·
Pembesaran
ikan jenaha (L. johni) selama 6 bulan akan
mencapai bobot 356 g dengan bobot awal 125 g.4. Pemberian pakan yang digunakan
adalah ikan rucah sebesar 5-10% bobot badan/hari. Pemberian pakan dilakukan dua
kali/hari. Adapun L. argentimaculatus yang diberi pakan rucah sebanyak 10%
bobot badan/hari selama masa pemeliharaan 7 minggu menunjukkan laju pertumbuhan
rata-rata o,8% per hari. Frekuensi pemberian pakannya satu kali sebesar 7%
bobot badan per hari.
·
Metode Pemeliharaan
Benih ikan yang sudah mencapai
ukuran 50-70 gram/ekor dari hasil pendederan atau hatchery, selanjutnya
dipelikara dalam kurungan yang telah disiapkan. Penebaran benih ke dalam
karamba/jaring apung dilakukan pada kegiatan sore hari dengan adaptasi terlebih
dahulu. Padat penebaran yang ditetapkan adalah 50 ekor/m 3 volume air.
Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari dengan takaran pakan 8-10% botol
total badan perhari. Jenis pakan yang diberikan adalah ikan rucah (trash fish).
Konversi pakan yang digunakan adlah 6:1 dalam arti untuk menghasilkan 1 kg
daging diperlukan pakan 6 kg. Selama periode pemeliharan yaitu 5-6 bulan,
dilakkan pembersihan kotoran yang menempel pada jaring, yang disebabkan oleh
teritif, algae, kerang-kerangan dll. Penempelan organisme sangat menggangu
pertukaran air dan menyebabkan kurungan bertambah berat. Pembersihan kotoran
dilakukan secara periodik paing sedikit 1 bulan sekali dilakukan secara berkala
atau bisa juga tergantung kepada banyak sedikitnya organisme yang menempel.
Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa ekor ikan
herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan algae tersebut.
Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara menyikat atau menyemprot
dengan air bertekanan tinggi. Selain pengelolaan terhadap sarana /jaring,
pengelolaan terhadap ikan peliharaan juga termasuk kegiatan pemeliharaan yang
harus dilakukan. Setiap hari dilakukan pengontrolan terhadap ikan peliharaan
secara berkala, guna untuk menghindari sifat kanibalisme atau kerusakan fisik
pada ikan. Disamping itu juguntuk menghindari terjadinya pertumbuhan yang tidak
seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan. Penggolongan ukuran
(grading) harus dila akukan bila dari hasil pengontrolan terlihat ukuran ikan
yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan, perlu dihindari jangan sampai
terjadi stress.
·
Pengendalian Hama dan Penyakit
Bakteri yang menyerang ikan
kakap merah adalah Streptococcus iniae. Gejala ikan yang terserang penyakit
ini, di antaranya warna ikan berubah menjadi lebih gelap, kehilangan
keseimbangan, berenang berputar dan timbul bintik – bintik merah pada kulit.
Pencegahan yang dilakukan dengan
cara menghindari padat tebarserta pemberian pakan berlebihan dan mencegah
penanganan kasar. Selain bakteri, ikan ini dapat diserang parasit, yaitu kutu
kulit. Kutu kulit adalah parasit eksternal yang umum pada ikan budi daya laut.
Ada dua kutu kulit yang ditemukan pada ikan kakap merah, yaitu Neobenedenia dan
Benedenia. Kutu kulit pada ikan sangat sulit diamati karena benvarna
transparan. Apabila dimasukkan ke dalam air tawar untuk beberapa menit, kutu
kulit baru terlihat karena berubah warna menjadi keputihan. Pemberantasan
parasit ini dengan cara merendam ikan di air tawar selama 5 menit. Jika tingkat
serangannya parah, perendaman dapat dilakukan sebanyak dua kali dengan selang
waktu seminggu.
·
-Panen
Ikan kakap
merah dipanen setelah berukuran 500 g. Ukuran tersebut ideal untuk dipasarkan.
Adapun lama pemeliharaan untuk mencapai ukuran tersebut adalah 6 bulan benih 50
g. Sementara itu, benih berbobot 200 g akan mencapai rata-rata 890 g/ekor
selama 225 hari. Pada prinsipnya cara pemanenan ikan kakap merah dari KJA sama
seperti cara panen ikan di KJA umumnya.
Cash Flow
ANALISA USAHA 1 TAHUN (2 PERIODE BUDIDAYA)
1.
Biaya Investasi
·
Karamba jaring apung 1 unit Rp. 2.500.000,-
·
Perahu jukung 1 unit Rp. 150.000,-
·
Peralatan budidaya Rp. 300.000,-
·
Jumlah Rp. 2.950.000,-
2.
Biaya Operasional
·
Benih 2 x 5.000 ekor x Rp 200,- Rp. 2.000.000,-
·
Pakan 2 x 13.500 kg x Rp 250,- Rp. 6.750.000,-
·
Tenaga kerja 2 orang x 1 x 6 buah x Rp. 75.000,-
Rp. 900.000,
·
Jumlah Rp. 9.650.000,-
3.
Jumlah biaya (1+2) Rp. 2.950.000 + Rp
9.650.000,- Rp. 12.600.000,-
4.
Pendapatan 2 x 2.250 kg x Rp 4.000,- Rp.
18.000.000,-
5.
Selisih pendapatan dan biaya total(4-3) Rp.
5.400.000,-
6.
Penyusutan 50% x Rp 2.950.000,- Rp. 1.475.000,-
7.
Laba sebelum pajak (5-6)
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1
Kesimpulan
:j
- Ikan kakap merah memiliki 2 jenis yakni, kakap tambak dan kakap jenaha
- Budidaya ikan kakap memiliki banyak manfaat
3.2 Saran :
- Dalam usaha budidaya ikan kakap jenis apapun, diperlukan keseriusan agar memperoleh keuntungan atau hasil yang maksimal.
- Memilih bibit ikan yang berkualitas baik, agar hasil yang kita dapatkan baik pula.
- Memperhatikan keadaan kolam, tambak atau keramba jaring apung jangan sampai ada kebocoran karena kolam yang bocor dapat menyebabkan kerugian.
DAFTAR PUSTAKA
https://pututrisna.wordpress.com/2014/08/06/budidaya-ikan-kakap/

Komentar
Posting Komentar