isyarat waktu


ISYARAT WAKTU
            Peristiwa dua insan yang tak sengaja berpapasan langsung akibat pelanggaran aturan telah menggoreskan kisah di lembaran baru kasih sekolah.
Terburu-buru dalam menghadapi masalah that’s’me yang biasa sapa Anna. Aku yang tak terlalu peduli kepentingan orang lain dan menghalalkan segala cara untuk memprioritaskan urusanku. Pagi itu perayaan reuni akbar yang ke-50 tahun SMKN 1 BUNGORO dalam perayaan itu aku dan teman-temannya akan membuat sebuah studio foto.
Di gerbang sekolah dijaga ketat oleh pasukan pramuka untuk melakukan pengawasan terhadap orang yang masuk atau pun keluar dari lingkungan sekolah. Aku yang punya seribu macam alasan berhasil lolos keluar untuk membeli bahan dan kembali segera. Tak berlangsung lama kami kehabisan bahan dan akupun berniat ke luar untuk membeli lagi. Kali ini aku sedikit kesulitan mencari alasan karena orang yang aku hadapi adalah Orang yang sangat taat peraturan, tapi aku tak pernah mengalah.
“Maaf siswa dilarang keluar dari lingkungan sekolah” tegur Dia.
“Ih tadi tidak dilarang sekarang kok dilarang sih? Padahal …” balas ku.
Aku pun membujuknya agar membiarkanku untuk keluar dengan tatapan yang sok manis. Saat itu pertama kalinya aku menatapnya, kami terdiam sejenak saling bertukaran pandang dan dia langsung membiarkanku lewat.
Waktu memang singkat untuk proses pembiasan rasa di hati. Aku yang tak pernah paham apa arti rasa itu perlahan tahu, ternyata begitu minimnya rasa yang aku miliki.
Dia yang pura-pura menatapku dari jauh membuatku sadar bahwa ada seseorang yang menggantung pandanganku. Setiap ku pandang dia membelokkan pandangannya, tak hanya itu dia berusaha memakai topeng agar aku tak bisa memandangnya. Ketika aku berpapasan dengannya serasa waktu berjalan sangat cepat seperti keindahan senja yang selalu kunantikan.
Rasa itu semakin lama semakin menggelora memaksaku untuk segera menganalisis statusnya. Akupun berusaha mengetahui namanya karena dengan itu aku bisa tahu akun medsosnya. Alhasil yang awalnya berniat agar bisa lebih kenal dan lebih dekat malah menghadapi kenyataan hanya bisa membuat goresan luka di hati dengan kata “LOVE FOREVER” di sebuah postingannya.
Saat itu aku berusaha melupakannya, cerita langit berkhendak lain. Aku malah lebih ingin memandangi wajahnya lebih lama. Meskipun waktu berusaha menghentikan langkahku dengan membuatnya jarang masuk sekolah.
Akupun menunggu, menunggu sampai dia datang ke sekolah. Kali ini waktu mengalah padaku karena dia seharian berada dalam jangkauan pandanganku. Tapi waktu tak pernah ingin diam membiarkan rasa itu terjalin kembali dan akan terluka untuk kesesian kalinya. Dia lagi-lagi tak masuk sekolah hampir seminggu. Aku berusaha fine-fine aja tapi hati kecilku tak pernah berbohong dan berusaha mengingatkanku.
Hatiku tiba-tiba terjangkit virus kangen dan membuat wajah ini kelihatan murung. Aku tahu rasa ini memang salah tapi bukankah manusia punya acara sendiri untuk mendapatkan pembenaran, “Tak perlu dibela dia pun akan membela”.
Aku berusaha meyakinkan katiku agar tak mengahapus rasa yang pernah ada agar nanti bisa kukenang walau hanya dalam penantian.
Isyarat waktu membuatku mengerti, “Mungkin belum saatnya aku memiliki rasa aneh yang membuat jantung ini hampir copot”.
Mungkin juga, usai di sini kasih itu terjalin, sekarang semuanya akan berakhir dengan kenangan kisah kasih di sekolah yang sangat singkat namun akan terkenang lama dangan ingatan.
Kini aku akan menjalani serangkaian kisah kehidupan yang tak mengukirkan namanya dalam perjalanku. Jejak kakimu ditepi hati ini akan termusiumkan dalam kenangan rindu.   

Komentar

Postingan Populer